Betapa Menyenangkannya Belajar Bahasa Itu

Filed Under (Life Moment) by iasaca on 15-10-2011

Tagged Under : , ,

me-and-wayangnese

Aaah..menyenangkan rasanya ketika tau ternyata, sahabat saya yang asli Vietnam tapi menetap di Korea, sedang belajar bahasa Indonesia.

Asli suprised!

Awalnya, dia membalas komen saya di foto yang dia upload ke facebook menggunakan bahasa Indonesia. Padahal saya mengomentari fotonya pakai bahasa Inggris lho…

And then

Kami berdua chat di Messenger dan saya menyapanya dalam bahasa Inggris. Mau tau dia menjawab apa?

Dia : Hai sayang

Saya tergelak dan iseng saya kumat.

Saya : Kamu ada dimana sayang?

Dia : Aku di rumah

Saya tergelak lagi. Ga nyangka dia iseng juga… (haha)

Bicara soal belajar bahasa indonesia oleh orang asing, jangan salah, saudara! Peminatnya lumayan banyak… ^_^

Dulu, waktu saya maen ke Korea, beberapa orang Korea mendatangi saya hanya untuk mempraktekkan Bahasa Indonesia yang sedang mereka pelajari. Saya sempat geli juga menghadapinya. Karena terkadang mereka terbalik-balik menyusun rangkaian kalimatnya meskipun saya mengerti yang mereka maksud…xixixi…

Tapi meski begitu (belajar meski salah-salah), saya salut! Karena mereka menikmatinya. Sama halnya dengan teman-teman saya ‘penggila’ film Korea yang sering memakai kata-kata yang mereka dapatkan dari film tersebut dan sangat ingin belajar bahasa Hangguk itu.

Sampai bela-belain cari informasi tempat kursus bahasa Korea cobaaa…canggih kan! (thumbs up)
Boleh ditiru tuh semangatnya! :D

Aza-aza Figting!!! ^_^Y

“Belajar jadi pecinta (surga)”

Filed Under (Beautiful words) by iasaca on 31-10-2010

Tagged Under : , , , ,

be-there-someday1

Wahai Lelakiku…
Cerita kita, mengajarkanku
Mencintamu, adalah mencintaNya
Merindumu, bermuara doa padaNya

Biarlah…
Kau tak perlu tau
Cukuplah suara hati yang temaniku
bersama zikir akalku
dan lirih tangis jasadku

Allah…
Kuyakini sejatinya bahwa
Cinta berawal dari dan berakhir pada Mu
Cinta yang hanya karena dia takkan lama
Tapi cinta yang karena Engkau, akan selamanya

Karena itulah, pada Mu ku berserah…
Pada takdirMu yang kan menuntunku
menjadi para pecinta karena Mu

Hingga akhirnya Engkau memanggilku kelak
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah…
Wahai jiwa-jiwa yang tenang!
Pulanglah…ke roodhiyatan mardhiyah..

Saat dimana kaum beriman berbaris-baris memasuki Jannah-Mu
Maka akan kujawab panggilan itu :
‘Labbaik, Ya Rab!”…
dengan syukur dan haru

(Amin)

-Oktober End, 2010-

“Begini rasanya diajar oleh mantan rektor ITB…”

Filed Under (Cerita kuliah di Fisika ITB) by iasaca on 26-02-2010

Tagged Under : , ,

prof_ir_lilik_hendrajaya_msc_phd

Anda kenal dengan Prof.Ir.Drs.Lilik Hendrajaya, MSc, PhD? Ya, beliau adalah mantan Rektor ITB tahun periode 1997-2001 yang kemudian menjadi ketua Balitbang Departemen Pertahanan Republik Indonesia.

Selama ini saya hanya mendengar namanya saja. Tapi Alhamdulillah, saya diberi kesempatan bertemu langsung di Jurusan Fisika ITB di medio Februari tahun ini. Kebetulan, beliau menjadi dosen tamu di mata kuliah Metodologi Penelitian yang saya ikuti. Saya baru tiga kali mengikuti kuliah beliau. Tapi saya bisa merasakan besarnya energi motivasi yang beliau transfer saat memberikan materi.

Motivasinya sederhana saja : “Buatlah riset anda menghilir!

Maksudnya?

Buatlah riset yang tidak sekedar menguatkan teori dan bisa diterapkan untuk kemaslahatan orang banyak saja…tapi juga berfungsi sebagai ‘profit centre’ alias bisa menghasilkan uang. Dengan begitu, industri di Indonesia akan berkembang seperti halnya di negara Cina, Korea atau yang lainnya.

Hmm..betul juga! Menurut saya memang faktanya hasil riset di Indonesia masih belum banyak menyentuh ranah aplikasi apatah lagi ranah industri. Tapi tidak mudah juga untuk menjadikan hasil riset sebagai komoditas yang menjual. Lantas, bagaimana caranya?

Menurut beliau, ada beberapa pilar agar riset bisa menghilir. Namun yang paling utama adalah: ‘Semangat untuk memilih metodologi yang tepat agar hasil riset kelak menjadi komoditas yang terserap pasar.’ Kuncinya, jeli melihat fenomena dan desain baru yang dibutuhkan untuk masyarakat.

Apa saja yang dibutuhkan masyarakat?

Di indonesia, masyarakat membutuhkan inovasi pada enam bidang, yaitu: pangan, kesehatan, transportasi, pertahanan keamanan, sumber energi dan material baru yang lebih baik. Tapi sekali lagi, hal itu tidak mudah karena dibutuhkan ketrampilan berpikir terpadu dan analitik. Terpadu dan analitik, saya artikan sebagai mampu melihat secara global suatu fenomena namun dapat menguraikan aspek komponen di dalamnya secara detil untuk menemukan solusi yang tepat.

Jadi begitulah…saya sangat terinspirasi selama mengikuti kuliah beliau. Selain konsep yang disampaikan menarik, saya juga salut dengan cerita perjalanan hidup beliau.

Anda bisa lihat gelar akademik beliau kan?

Gelar sarjananya saja ada dua, selain gelar master dan PhD yang didapat dari luar negeri. Dan keduanya dijalani secara bersamaan di kampus ITB (Fisika dan Teknik). Belum lagi kisah terpilihnya beliau menjadi rektor yang katanya ‘tidak sengaja‘. Takdir, karena namanya dipilih langsung oleh Presiden Suharto saat itu meski nama yang diusulkan adalah nama orang lain.

Singkat kata, menurut saya beliau adalah orang jenius yang bekerja profesional dan cerdas sehingga dipercaya untuk mengemban amanah-amanah besar. Saya suka ucapan beliau :

Menjadi profesor itu target dan harus saya perjuangkan. Sedangkan untuk menjadi rektor….

…itu adalah takdir… bukan begitu, pak? :)

Hmm…Begini rasanya diajar oleh mantan rektor….

Filed Under (Cerita kuliah di Fisika ITB) by iasaca on 09-02-2010

Tagged Under : , ,

Hari ini saya kuliah jam 7 pagi. Metodologi Penelitian, judul mata kuliahnya, yang diampuh oleh Bapak Abdul Waris. Tapi begitu saya sampai di depan kelas, saya berpapasan dengan beliau yang baru saja meninggalkan ruangan.

Lha, terus yang ngajar siapa? pikir saya :D

And guess what?? Suprised…

Seorang bapak yang mirip SBY (hehe..itu yang terlintas di kepala saya) sedang berdiri di dekat LCD proyektor siap menerangkan sesuatu.
Beliau semangat sekali pembawaannya. Dan tegas.
Dari judul slide yang ditampilkannya, barulah saya tau..beliau adalah Bapak Lilik Hendrawijaya, dosen Fisika ITB yang pernah menjabat sebagai Rektor.

lilik_hendrajaya

“Terobosan baru!” kata suara hati saya…

Kenapa? Karena paradigma baru yang dijelaskan oleh beliau dalam kuliah, yang saya rangkum dalam poin berikut ini :

1. Pak Lilik menjelaskan konsep hulu dan hilir dalam pengelompokan ilmu pengetahuan. Mipa itu hulu, kedokteran, teknik dan teman-teman nya itu hilir.
Menurut beliau, kesalahan bangsa Indonesia adalah membedakan penghargaan terhadap alumni hulu dan
hilir. Hasilnya, publik menganggap ilmu MIPA sebelah mata dan akibatnya, saat ilmu dasar dibutuhkan di seluruh Indonesia, yang terjadi adalah…

“Bahkan Dinas yang harusnya di kepalai oleh alumni MIPA, malah diduduki oleh seorang sarjana agama” ujar beliau miris. (Hiks…betul juga pak!)

2. Konsep Tri Darma Perguruan Tinggi intinya adalah: Belajar, Riset dan Bisnis. Nah, poin terakhir ini yang kurang ditekankan secara eksplisit bagi bangsa Indonesia.
Anda tau kan, bahwa aslinya konsep tersebut adalah : Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat?
Poin ketiga beliau ganti untuk propagandanya dalam rangka memacu para periset agar mampu memasarkan dan menjual hasil-hasil risetnya.

Waaah..banyak sekali contoh yang beliau ambil untuk menunjukkan periset yang berhasil menjual karyanya…salah satunya, Yohanes Surya dengan Tim Olimpiade nya :)

So…beliau tunjukkan lah triknya bagaimana agar sebuah riset itu ‘menjual’. Bukan karena mata duitan lho teman-teman…tapi semata agar hasilnya aplikatif dan bermanfaat buat orang banyak. Jadi tidak hanya menumpuk di jurnal atau dokumen lab. That’s it! :)

Hmmm…makasih pak Lilik, atas pencerahannya! Saya senang, bisa mengikuti kelas Bapak!
(Jadi ga sabar untuk ikut kuliah bapak lagi minggu depan :) )

Oya…apa saja triknya? Hmm.. saya simpan dulu yaa..hehe…Biar saya sambungkan sekalian dengan kuliah beliau berikutnya ;)